Showing posts with label Animal. Show all posts
Showing posts with label Animal. Show all posts

Sunday, March 11, 2012

Tikus Mondok


                Tikus mondok atau tikus tanah termasuk ke dalam ordo Soricomorpa. Meskipun kebanyakan tikus tanah bersembunyi di dalam lubang, beberapa spesiesnya adalah akuatik atau semi-akuatik. Tikus tanah memiliki badan berbentuk silinder dan tertutup oleh bulu, dengan mata kecil yang dilindungi. Sedangkan telinga tikus tanah tidak dapat terlihat mata. Kaki depannya besar dan kuat. Telapak kakinya datar dan besar seperti sekop. Kepalanya yang runcing memudahkannya menyusuri lubang.
            Walaupun tidak tergolong hewan Rodensia, tikus mondok sangat pandai menggali tanah untuk sarangnya. Terowongan yang digalinya membentuk jaringan yang luas. Di tengah-tengahnya terdapat ruangan tempat mereka bersarang.
Tikus mondok suka menggali tanah dekat permukaan yang kaya akan cacing tanah. Akibatnya, sistem perakaran tanah dan rerumputan akan rusak. Selain itu, akibat penggaliannya akan meninggalkan gundukan tanah yang tidak sedap dipandang mata.
            Makanan tikus mondok adalah cacing tanah dan hewan invertebrate yang ada di dalam tanah. Mereka menggunakan air liurnya untuk menangkap mangsaya. Air liurnya megandung racun yang dapat mematikan mangsanya.

Marmot Tanah



Marmot tanah (Marmota monax) juga sering dipanggil groundhog atau woodchuck. Hewan ini hidup di dataran rendah dan banyak ditemukan di Amerika Utara. Marmot tanah termasuk rodensia. Ia adalah mamalia yang berbadan gendut dengan tungkai yang pendek. Beratnya dapat mencapai 2-7 kg Ia memiliki ekor yang cukup panjang antara 46-66cm. Marmot tanah menggali lubang dengan kaki depan yang bercakar yang kuat dan tajam. Ssedangkan tanah hasil galian disingkirkan keluar lubang dengan kaki belakang.
            Pada bulan-bulan yang hangat marmot tanah hanya makan dan makan. Mereka memakan tumbuhan hijau dan biji-bijian. Di dalam tubuh makanan itu disimpan dalam bentuk lemak sebagai cadangan sumber energy di musim dingin. Bila musim dengin tiba, hewan ini pun berhibernasi di dalam sarang. Dengan cara hidup yang seperti ini, marmot tanah dapat hidup anatara 4-6 tahun.
Di Amerika, pada tanggal 2 februari marmot tanah pasti muncul keluar sarang dsetelah tidur panjang. Uniknya, bila marmot tanah melihat bayanannya sendiri, ia akan kembali masuk ke sarang dan berdiam diri selama 6 minggu. Sedangkan bila langit berawan, mereka akan keluar dan bermain. Oleh karena itu, mereka dijadikan penanda kapan musim semi akan tiba. Dan di Amerika Serikat, tanggall 2 Februari dijadikan sebagai Groundhog Day. 

Anjing Prairie


            Anjing prairie (Cynomis ludovicianus) juga sering disebut anjing padang rumput. Meskipun namanya anjing prairie, mereka bukanlah keluarga anjing, melainkan keluarga bajing tanah. Hewan ini disebut anjing karena suka menyalak saat dalam bahaya.
            Anjing Prairie termasuk hewan pengerat yang hidup di dataran tinggi mulai dari Saskatchewan, Kanada, hingga Meksiko bagian Utara. Anjing prairie memiliki hubungan yang dekat dengan marmot dan tupai. Hewan ini memiliki panjang 28 sampai 38 cm. Hewan ini bermata besar, berekor pendek, dan memiliki sepasang telinga yang membulat. Mereka memiliki gigi yang kuat dan cakar yang tajam.
            Mereka menggunakan cakarnya untuk menggali terowongan sebagai tempat bersarang. Terowongan yang mereka gali membentuk perkampungan dengan banyak ruangan di dalamnya. Diantaranya terdapat ruang pengasuhan, tempat tidur berlapis rumput kering, bahkan sebuah ruang dengar untuk memantau keadaan sekitar.
            Terowongan yang mereka buat kedalamannya mencapai 3 meter. Jarak antara satu pintu dengan pintu lainnya sekitar 15 meter. Pemangsa utama anjing prairie adalah burung rajawali, burung elang, ular, dan anjing hutan. Oleh karena itu, pintu masuk terowongan dikelilingi gundukan tanah sebagai tempat memantau keadaan sekitar. Disamping itu, gundukan tersebut juga digunakan sebagai pelindung dari banjir.


            Anjing prairie hidup secara berkelompok. Dan uniknya, jika semakin banyak orang yang memperhatikan mereka, mereka akan saling menyayangi satu sama lain. Bahkan tidak jarang mereka saling berciuman. Terkadang, hal ini mereka lakukan untuk saling memberitahu jika akan ada bahaya. Selain itu mereka berkomunikasi dengan suara yang setidaknya terdiri dari 100 kosa kata.

Tarsius


         Tarsius yang merupakan primata dari genus Tarsius adalah binatang unik dan langka. Genus Tarsius adalah genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes.  Primata kecil ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia, meskipun satwa ini bukanlah monyet. Meskipun dahulu memiliki penyebaran yang luas, sekarang hanya tinggal beberapa jenis yang tersisa. Sedikitnya terdapat 9 jenis Tarsius yang ada di dunia. 2 jenis berada di Filipina sedangkan sisanya terdapat di Sulawesi, Indonesia. Tarsius yang paling dikenal adalah dua jenis yang terdapat di Indonesia yaitu Tarsius tarsier (Binatang Hantu / Kera Hantu) dan Tarsius pumilus (tarsius kerdil, krabuku kecil atau Pygmy tarsier).
         Nama Tarsius diambil berdasarkan ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar. Cakar tersebut mereka gunakan untuk merawat tubuh. Bulu tarsius sangat lembut dan mirip beludru yang bisanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda.
Tarsius memang layak disebut sebagai primata mungil karena hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm. Bahkan Tarsius pumilus atau Pygmy tersier yang merupakan jenis tarsius terkecil hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Sedangkan panjang ekornya antara 197-205 milimeter. Tidak seperti prosimia lain, tarsius tidak mempunyai sisir gigi, dan susunan gigi mereka juga unik:
2.1.3.3
1.1.3.3





  
         Tarsius memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri seperti burung hantu. Telinga satwa langka ini juga mampu digerak-gerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa. Ciri-ciri fisik tarsius yang unik lainnya adalah ukuran bola matanya yang berdiameter sekitar 16 mm. Ukuran mata tarsius lebih besar daripada ukuran otaknya. Ukuran matanya yang besar ini sangat bermanfaat bagi makhluk nokturnal ini sehingga mampu melihat dengan tajam dalam kegelapan malam. Tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal.
          Tarsius berburu pada malam hari. Hewan buruan utama mereka adalah serangga. Tarsius menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar.Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak.
      
           Habitatnya adalah di hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan, juga di pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Suwu, Selayar, Siau, Sangihe dan Peleng. Selain itu beberapa dari mereka juga ditangkar di Taman Nasional Bantimurung dan Hutan lindung Tangkoko di Bitung, Sulawesi Utara. Di sini wisatawan dapat dengan mudah melihat satwa ini. Tarsius juga dapat ditemukan di Filipina (Pulau Bohol). Di Sulawesi, Tarsius lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan “balao cengke” atau “tikus jongkok”.
         Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon dengan lompatan hingga sejauh 3 meter. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah.
Tarsius yang merupakan hewan mamalia, mengandung anak mereka selama 6 bulan hingga lahir seekor tarsius. Tarsius yang baru lahir memiliki bulu dan mampu melompat sehari setelah kelahirannya. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar.
         Tarsius kini tergolong langka, karena mamalia ini sangat suit dikembangbiakkan. Bukan hanya karena lamanya mengandung dan hanya melahirkan satu bayi, tapi juga karena perilaku mereka. Mereka akan merasa stress jika diletakkan di dalam kandang. Akibatnya, mereka akan menyerang pasagannya yang ada di dalam kandang tersebut.