Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, April 19, 2012

Latihan


Akhirnya hari Jum’at tiba. Pagi-pagi sekali aku mendapat SMS undangan nobar. Dan tak lama kemudian teman sekelompokku, Lusi, mengajakku untuk inut nobar.
“Emang beneran wajib?” tanyaku.
“Ya… gak juga sih! Tapi ntar gue gak ada temen ke rumah Sherin,” ujar Lusi.
“Yah… tapi rambutku masih basah. Baru aja keramas,”
“Ayo dong! Please… gue takut nyasar,”
“Aku juga gak tau rumahnya dimana. Kalo bareng aku jatohnya juga sama aja!”
“Tapi paling nggak, nyasarnya bareng-bareng,”
“Ye… malah ngedo’ain. Ya udah, liat nanti aja!”
Aku pun mengganti pakaian dan bersiap-siap pergi. Namun aku masih merasa ragu. Waktu sudah menunjukkan pukul 9. Sedangkan nobar dimulai jam 9. Sudah pasti aku telat untuk tiba di sana. Terlebih lagi aku tidak tau alamat rumah temanku. Kalau nyasar, bisa-bisa 2 jam lebih nyampenya.
Tapi, aku mulai memikirkan kemungkinan lain. Jikalau aku tidak dapat ikut nobar, mungkin aku bisa ke toko buku dan membeli beberapa. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat saat itu juga.
Sudah hampir satu jam aku duduk di angkot. Jalan yang macet semakin menghambatku untuk cepat-cepat tiba di rumah temanku. Dan ketika tiba di pasar, temanku mengirimkan SMS.
“Udah ada di mana?” tanya Ais.
“Di pasar. Macet banget,” ujarku.
“Yah… kita udah mau berangkat nih! Nanti nyusul aja ya, naik 02,”
“Oke. Turun dimana?”
“Di jalan lele 4. Abangnya tau kok!”
“Sip…”
Selang beberapa menit, tibalah aku di ITC. Ternyata, teman-temanku masih ada di seberang jalan. Namun aku agak bingung. Lewat mana nyebrangnya? Gak ada Zebra cross. Akhirnya aku melihat-lihat keadaan sekitar. Ternyata ada sebuah jembatan penyebrangan 500 m di sebelah kanan. Tapi setelah berfikir lagi, lebih baik aku langsung menyebrang daripada harus jauh-jauh pergi ke jembatan penyebrangan jalan.
Aku pun nekat menyebrangi jalan yang cukup ramai dan lebar. Dan akhirnya aku tiba di tempat teman-temanku.
“Wes… akhirnya sampe juga,” ucap Ais.
“Julie gila juga! Nekat aja nyebrangnya,” tambah Dina.
“Abisan, jembatan penyebrangannya jauh,” ucapku.
“Langsung naik aja yuk! Angkotnya udah mau dateng,” kata Tikah.
Kami pun naik angkot dan pergi menuju rumah Asti. Setelah 30 menit perjalanan, kami pun tiba di gang rumah Asti.
Aku berjalan bersama dengan Tikah. Awalnya kami hanya saling berdiam. Namun Tikah mulai berbicara memecah suasana.
“Kamu gak jadi keluar bareng keluarga?” tanyanya.
“Gak. Lagian kamu bilang hari ini ada rapat. Akhirnya aku belain gak ikut. Tapi ternyata gak jadi rapatnya,” ucapku.
Namun setelah itu tak terdengar suara baik dariku maupun darinya. Walaupun berjalan beriringan, kami hanya terdiam dan tak saling bicara,
Setibanya di rumah Asti, kami duduk di sofa sambil mempersiapkan film yang akan ditonton.
“Kamu hari ini kurang sehat ya?” tanya Sissy yang duduk di sebelahku.
“Iya. Kayaknya mau pilek. Pusing pula,” ucapku.
“Trus kenapa dateng?” tanya Sissy heran.
“Di rumah sepi. Lagian Lusi minta ditemenin. Ya, udahlah! Dateng aja,” ucapku.
Seperti rencana sebelumnya, setelah kaset terpasang, kami pun menontonnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang.
“Li, kita berangkat jam berapa?” tanya Lusi.
“Abis shalat Dzuhur aja,” ujarku.
“Emang mau pergi ke mana?” tanya Sissy.
“Ke rumah Sherin. Latihan drama,” ujarku.
“Rajin banget. Gue aja baru latihan hari minggu,” ucap Izzie.
“Ya… pada sempet hari ini,” ucapku.
Setelah pukul 13.00, kami menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Dan setelah shalat, kedua orang tua Asti menawarkan kami untuk makan siang. Akhirnya, kami memesan bakso malang dan memakannya hingga habis.
Kami tau, kalau latihan dimulai pukul 13.00. tapi aku da Lusi tidak mampu menahan perut yang kosong. Dan setelah pukul 13.30 kami memutuskan untuk pergi ke rumah Sherin. Ternyata perjalanan cukup lama hingga akhirnya kami tiba di rumah Sherin pukul 14.30.
Setelah sampai, kami memulai latihan sesuai peran. Satu jam kemudian Meisya datang bersama Adit.
“Dari mana aja, Bu?” tanya Lia.
“Gue nyasar tadi,” ujar Adit.
“Lah! Lo bilang, lo tau!” seru Olivia.
“Kaga tau, Liv! Lo salah denger,” ujar Adit.
“Lah, kan tadi udah gue SMS alamatnya,” ucap Olivia.
“Jangan-jangan lo SMS ke nomer yang gue pake! Itu mah nomernya mbak-mbak alfamart,” ujar Adit.
Mendengar perkataan Adit, kami semua tertawa.
“Mbak Alfamart? Kok bisa?” tanya Lia.
“Nomer gua gak bisa buat SMS. Jadi, gue pinjem aja!” ucap Adit.
“Ya, telfon lah!” seru Lia menanggapi.
“Nelfon juga gak bisa,” ucap Adit.
“Lah! Buat apa lo punya hape kalo gak bisa buat nelfon sama SMS?” ujar Sherin menanggapi.
“Ya, buat nerima aja. Tapi untungnya tadi ketemu Meisya. Setidaknya gue tertolong,” ucap Adit.
“Awalnya tuh gue bingung. Perasaan gue baru aja nelfon Sherin alamatnya. Tau-tau gue ketemu Adit. Gue bingung, kok Adit cepet banget jemput gue. Gak taunya dia nyasar,” kata Meisya.
“Ya ampun… bisa aja ya! Ya udah deh, mending kita latihan lagi,” ucap Sherin.
Kami pun melanjutkan latihan. Dan akhirnya kami mengakhiri latihan yang belum selesai pada pukul 19.15 WIB.

Rapat


            Sebagai manusia, tentu kita memiliki pasang-surut akan kehidupan. Ada kalanya kita merasa bahagia, namun ada kalanya kita merasa sedih atau bahkan kesal. Aku tidak mengerti kenapa hari ini terjadi. Yang aku rasakan hanyalah rasa kesal tiada tara.
Sejak pagi tiba di sekolah, aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada temanku. Di sana berisi sebuah izin dariku untuk tidak menghadiri sebuah rapat. Lalu aku membaca buku dan mendengarkan musik.
Tak lama setelah itu, aku mendapat balasan akan kemarahan temanku. Dia tidak suka jika aku tidak mengikuti rapat. Padahal, sejak seminggu lalu, ayahku sudah mengatakan bahwa kami akan pergi bersama pada liburan besok. Dan aku justru diharuskan mengikuti rapat itu di hari di mana aku pergi.
Tiba-tiba aku merasa dadaku sakit luar biasa. Aku sungguh bingung sekaligus ragu. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Mana yang harus kupilih? Akankan aku memilih teman atau tetap memilih keluarga. Ini adalah pilihan yang berat bagiku. Aku merasa dipojokkan dengan berbagai kemungkinan yang akan manimpaku. Untuk beberapa saat aku melupakan pemikiran itu dan melanjutkan membaca.
Aku terus terfokus pada pelajaran. Dan aku kembali merasakan rasa sakit ketika sedang mengikuti praktik Biologi. Walaupun praktik itu dikerjakan perkelompok, aku merasa hanya aku yang mengerjakan semuanya. Terutama ketika sedang menjawab pertanyaan dan kesimpulan. Aku sempat berfikir, mungkin rasa sakit ini hanyalah perasaanku saja. Namun, semakin lama aku menahannya, aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku.
Tanpa disadari, aku mengeluarkan kata-kata kasar yang mengejutkan teman sekelompokku. Aku yang menyadari hal itu, langsung menghentikan kegiataku dan memejamkan mata. Aku berusaha menahan kemarahan agar tidak keluar dari mulutku. Aku berusaha tetap tenang dan melupakan semua kejadian di pagi itu.
Tidak sepantasnya aku melakukan hal yang buruk kepada temanku yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan kejadian tadi pagi. Aku terus saja menjaga agar tubuh dan fikiranku tetap rileks.
Lalu ketika bel istirahat berbunyi, aku pergi ke kantin bersama temanku. Setelah membeli beberapa makanan, kami kembali ke kelas. ketika di koridor, aku bertemu dengan Via. Via yang juga anggota sie acara, bertanya, “Besok bisa ikut rapat kan?” Aku langsung menjawab, “Tidak ikut,”
Dan tiba-tiba Via berkata dengan nada kesal, “Ah, kamu mah gak ikut rapat mulu!”
Aku terkejut bukan main. tanganku terasa lemas dan aku hampir saja menjatuhkan makanan yang baru kubeli. Apa maksudnya berkata seperti itu? Aku hampir saja meluapkan kembali kemarahanku.
Aku sadar, kamarin, aku tidak mengikuti rapat. Namun aku  sudah ada janji sebelumnnya. Dan mereka memberitahuku kalau ada rapat, baru di hari itu. Tentu saja aku memilih menepati janjiku yang sebelumnya. Tapi itu adalah rapat pertama dan baru kali itu aku tidak mengikuti rapat selama 4 bulan terakhir.
Lalu apa maksudnya berkata seperti itu? Apakah aku ini pengkhianat? Apakah aku bersikap kurang ajar? Lalu kenapa dia berkata seperti itu? Aku benar-benar merasa kecewa padanya. Aku tidak menyangka kalau aku akan mengalami hal seburuk ini.
Setibanya di kelas, temanku yang tadi pratik bersamaku, mendekatiku.
“Kamu gak papa?” tanya Widia.
“Lah! Emang aku kenapa?”
“Mungkin kamu masih marah soal yang tadi,”
“Soal yang mana deh?”
“Pas lagi praktek. Emang marah kenapa sih? Gara-gara aku ya?”
“Oh… gapapa lagi. Bukan gara-gara kamu kok!”
“Trus gara-gara apa?”
“Yang jelas gak ada kaitannya sama kamu. Tenang aja!”
            Pembicaraan dapat dihentikan dan aku merasa lega tidak lagi harus berbicara terlalu banyak. Istirahat pun usai dan kami memulai pelajaran baru. Ketika itu, guru Bahasa Indonesia memerintahkan kami untuk mempresentasikan karya tulis yang telah dibuat.
            Akhirnya kelompok yang dipanggil olehnya maju dan bepresentasi. Ternyata bukan kelompokku yang disuruh maju. Maka kami harus membuat rangkuman mengenai hal yang dibahas dalam karya tulis mereka.
            Aku pun duduk bersama anggota kelompok yang lain. Kami menyiapkan peralatan menulis sambil bercanda. Begitupula denganku. Aku mendengarkan lelucon mereka dan melupakan kejadian tadi.
Selang beberapa menit, Ami memanggilku, “Julia, lo kemaren kemana? Kok gak ikut rapat?”
“Aku izin karena udah ada janji,”
“Ah, paya lo! Harusnya tuh lo ikut rapat. Lo kan anak acara,”
Aku hanya diam dan berusaha mengalihkan pandangan.
“Julie gak rapat… Julie curang… Julie curang…” ucapnya. Dan ketika itu aku langsung memandangnya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah kufikirkan.
Namun, setelah mendengar kata-kata yang diucapakan dengan nada mengejek, aku langsung saja membalik tubuhku memebelakangi Ami dan Ana. Dengan amarah yang mengguncang, aku memperhatikan karya tulis yang sedang dipaparkan.
Aku berusaha menenangkan diri dan terus ber-istighfar. Tak lama kemudian, aku berhasil menenangkan diri. Dan selang 15 menit, Ana memanggilku.
“Julia lagi bete ya?” ujarnya.
Tetapi, aku tidak terlalu memedulikannya dan lebih memilih diam. Dengan segera aku membuang muka dari hadapannya. Aku kembali fokus terhadap karya tulis yang ditampilkan dan duduk membelakangi mereka. Aku tidak ingin kemarahanku kembali keluar dan menyakiti teman-temanku.
             Hari pun berlalu dan tak terasa, Kamis sudah datang. Di sekolah, aku belajar seperti biasa. Dan ketika plajaran mulok usai, aku dan teman-teman kelompok dramaku membicarakan latihan.
“Jadi kita mau latihan di mana?” tanyaku.
“Di rumah siapa ya? Apa di rumah Sherin aja?” ujar Meisya.
“Kalian mau di rumah gue? Ya udah kalo gitu. Mau hari apa?” tanya Sherin.
“Kalo hari Jum’at gimana?” tanya Lia.
Mendengarnya aku hanya terdiam. Aku berfikir lagi tentang apa yang akan kulakukan.
“Yah… gue gak bisa,” seru Meisya.
“Kenapa emang?” tanya Lia.
“Gue mau ada GS. Tapi mungkin gue bisa kalo sorean dikit,” ujarnya.
“Ada lagi yang gak bisa?” Tanya Lia.
“Insya Allah bisa,” ucapku.
“Oke ya! Fix di rumah gue, jam 1,” ucap Sherin.
“Iya…” jawab beberapa anak.
Kami pun  membereskan buku dan pulang. Ya… aku merasa senang bisa berjanji ikut latihan. Tapi apakah aku akan menepatinya? Ya, lihat aja besok.

continued to Latihan

Permen Karet


“Baiklah. Kita mulai pelajaran hari ini,” ujar Bu Tri.
Saat ini aku, Josephin, sedang duduk di kelas 7. Tepatnya kelas 1 tingkat SMP. Aku yang lebih akrab disapa Joe, memuali suatu masalah dengan perilakuku yang kurang baik. Walaupun aku seorang anak perempuan, kebiasaanku bermain dengan laki-laki membuatku menjadi sedikit  tomboy.
Kali ini pun aku sedang memikirkan jalan keluar yang akan kuambil. Saat ini, guruku baru saja mulai mengajar setelah sebelumnya kami istirahrat selama setengah jam. Namun, aku tidak terlalu berkonsentrasi dengan pelajaran karena masih mengunyah permen karet yang kumakan ketika istirahat.
Aku yang sudah tahu peraturan ketika belajar, lebih memilih untuk membantah peraturan itu. Akhirnya dengan keputusan yang tidak tepat, membuatku tetap memakan permen karet tersebut. Dan tiba-tiba aku dikejutkan dengan seruan guruku.
“Joe, kamu lagi ngapain? Buang dulu permen karetnya,” ucap Bu Tri.
“”Ketawan deh!” gumamku. “Padahal udah ngunyah pelan-pelan. Tapi tetep ketawan,” tambahku dalam hati.
Akhirnya aku memutuskan untuk membuang permen karet itu.
“Jadi, ibu ingatkan sekali lagi. Jangan suka membantah peraturan,” ucap Bu Tri setelah aku masuk ke kelas.
“Udah dibuang permennya?” Tanya Bu Tri ketika aku duduk di bangku.
“Sudah, Bu,” ujarku.
“Ibu harap tidak ada lagi yang melakukan hal seperti yang baru saja Joe lakukan,” kata Bu Tri, “dank arena Joe telah melanggar aturan, ibu minta besok kamu bawa permen karet sejumlah teman-temanmu,”
“Baik, Bu,” ucapku lirih.
“Besok ada pelajaran ibu kan?” seru Bu Tri bertanya.
“Ada, Bu…” ucap anak-anak.
“Bagus. Jadi, ibu harap kamu tidak lupa untuk membawanya,” ucap Bu Tri.
Akhirnya kami pun melanjutkan pelajarana. Dan akibatnya sepanjang jam pelajaran aku hanya diam dan tidak berani mengobrol.
Ketika pulang sekolah, Mai yang pulang bersamaku bertanya, “Kamu tadi kenapa ngunyah permen?”
“Hm… iseng. Abis males buang ke luar,” ujarku.
“Tapi pada akhirnya kamu buang juga kan!” kata Mai.
“Iya sih! Ya, badel dikit ga papa lah!” ujarku.
Keesokan harinya, seperti yang sudah kujanjikan, aku membawa permen karet sebanyak 40 lembar. Ketika pelajaran Bu Tri, aku bagikan permen karet tersebut pada semua temanku. Ya, walaupun kejadiannya sudah berlalu, rasa malu masih menyerangku. Malu yang tak tertahankan. Sungguh-sungguh menyesal.

Obrolan Gak Penting


            Siang itu aku sedang mengerjakan sebuah laporan. Rima –begitulah sapaanku– duduk di dekat teman-teman yang sedang mengobrol. Ketika asik mengetik, sesekali aku memperhatikan teman-temanku yang sedang mengobrol.
            “Jadi lo belom pernah main ke rumahnya?” seru Diah.
            “Belom,” ucap Andri.
            “Sekalipun?” tanya Meri.
            “Iya. Gue kalo nganterin dia cuma sampe gerbang. Gak pernah masuk,” jawab Andri.
            “Emang kenapa gak pernah masuk?” tanya Diah.
            “Dia gak ngebolehin. Malu katanya,” kata Andri.
            Namun aku tidak terlalu menghiraukannya dan melanjutkan pekerjaanku. Setelah menyelesaikan laporan, aku merapikan semua peralatan dan beranjak pergi. Tiba-tiba, Andri berteriak.
            “Ah… gue gak tau! Pusing,” serunya.
            Langsung saja aku menghampirinya.
            “Kenapa lo?” tanyaku.
            “Soal pacarnya dia,” ucap Meri.
            “Oh… jadi yang dari tadi lo omongin tuh pacar lo. Emang kenapa dia?” tanyaku.
            “Lagi ada masalah. Gue bingung jadinya,” ucap Andri.
            “Ya udah kali! Selow aja!” ujarku.
            Aku pun meninggalkan mereka dan mengembalikan  laptop ke mejaku. Setelah beberapa saat, aku mendengar percakapan mereka yang sudah berganri topic. Aku pun kembali menghampiri mereka.
            “Lagi pada ngomongin apa? Kayaknya bukan masalah cewek lagi,” ujarku.
            “Nah… ini ni! Kayak Rima. Coba deh kalian perhatiin,” ucap Diah.
            “Apaan sih?” tanyaku heran.
            “Liat kan? Bibir bawahnya tuh kayak kebelah,” kata Diah.
            “Bibir bawah? Kenapa dengan bibir gue?” tanyaku.
            “Ri, jangan bilang lo udah pernah ciuman,” ucap Andri.
            “Hah? Ya Allah! Parah banget! Sembarangan nuduh lo! Emang gue cewek apaan?” seruku.
            “Tapi persis begitu. Itu sih kata orang-orang. Ga tau juga bener apa enggak,” ucap Diah.
            “Ih, masa sih? Tapi gue gak pernah ciuman. Seriusan,” ucapku.
“Wah, Rima. Gak gua sangka lo pernah begitu,” ucap Meri.
“Ya Allah! Boro-boro Mer. Pacar aja gak ada,” ujarku.
            “Ciuman gak mesti sama pacar. Bisa aja sama nyokap lo,” ucap Diah.
            “Astaghfirullah… iya. Gue sering sama adek gue yang cewek,” ucapku.
            “Di bibir?” tanya Meri.
            “Iya,” kataku.
            “Nah, bisa jadi tuh!” tambah Diah.
            “Ah… parah banget! Yah… kasian adek gue dong jadinya. Jadi korban. Padahal dia gak tau apa-apa,” ucapku.
            “Nah, berarti itu salah lo,” kata Diah.
            “Aduh… kasian banget sih, kamu Dek,” ujarku sambil beranjak pergi.
            “Eh, lo mau kemana? Gue belom selesai,” ujar Andri.
            “Selesai apaan?” tanyaku sambil berhenti.
            “Gue masih belom ngerti bagian mananya. Biar gue peratiin dulu,” ucap Andri.
            “Ah, lu lagi! Gak tau apa orang lagi kesel? Cari kesempatan dalam kesempitan,” kataku.
            “Kaga. Lagian bentar doang,” ucap Adrian sedikit memohon.
            “Ogah!” seruku sambil meninggalkan mereka bertiga. Aku yang merasa dipermalukan tidak lagi memperhatikan mereka atau mendekati mereka. Sudah kapok rasanya ikut bergosip.

Mesin Motor Mati


Sudah tidak jarang melihat anak sekolahan –baik SMP ataupun SMA– yang pergi ke sekolah dengan mengendarai motornya sendiri. Tidak hanya laki-laki, perempuan juga ada yang melakukannya. Salah satunya adalah aku. Aleya –panggilanku– juga pergi ke sekolah dengan mengendarai motor sendiri. Sudah 2 tahun aku melakukannya sejak masuk SMA. Namun, aku baru mulai menggunakan motor manual belakangan ini.
Aku memang baru sekali ini ke sekolah dengan menggunakan motor manual. Walau sedikit ragu, aku harus tetap melakukannya. Hal ini karena alasan yang cukup rasional. Sejak aku masuk SMA, ayahku membelikanku motor matic. Diharapkan dengan motor ini aku akan lebih mudah mengendarainya. Melihat postur tubuhku yang kecil, tentu motor matic adalah pilihan yang tepat. Namun, sejak itu juga motor manualku tidak pernah digunakan. Akhirnya –setelah 2 tahun– aku harus kembali menghidupkan mesin motor itu dan membawanya melakukan perjalanan yang jauh.
Aku pun mulai mengendarainya pegi ke sekolah. Hari ini adalah hari ke-3 sejak pertama kali aku membawanya ke sekolah. Dan tiba-tiba saja aku dikejutkan dengan mesin motor yang mati. Ketika sedang macet, tiba-tiba saja mesin motorku mati. Aku yang merasa sedikit panik, mulai menghidupkan kembali mesin itu. Tiga kali kucoba dan akhirnya berhasil.
Aku terus berjalan menyusuri lalu lintas yang padat. Dan parahnya, hal yang serupa kembali terjadi. Mesin motorku mati kembali ketika macet. Untunglah aku tidak diklakson seperti keadaan sebelumnya. Sehingga aku tidak begitu panik ketika berusaha menghidupkan mesin motorku.
Kali ini aku berusaha lebih keras untuk menghidupkan mesin motorku. Aku mencoba menghidupkannya lebih dari lima kali hingga aku tak tahu berapa jumlahnya.
Dan aku cukup terkejut ketika melihat seseorang yang tak asing baru saja melewatiku. Ia berhenti tepat di depanku. Setelah kusadari, ternyata dia adalah kakak kelasku. Aku memang merasa sedikit malu ketika itu. Namun aku tetap tidak peduli dan tetap mencoba menghidupkan mesin motorku. Akhirnya setelah mesinku berhasil dinyalakan, aku menarik pedal dengan kencang hingga terdengar bunyi yang kasar. Aku tahu, orang-orang merasa jengkel dengan perbuatanku. Namun aku harus melakukannya agar mesin motorku tidak mati kembali.
Akhirnya ketika lalu lintas mulai bergerak, aku menambah gigi dan menarik pedal gas. Lalu aku berkendara menuju sekolah. Untung saja aku tidak terlambat. Aku merasa sangat bersyukur karena bisa sampai ke sekolah dengan selamat.
Keesokan harinya, ketika pulang sekolah, aku berkendara melewati jalan yang biasa. Dan tiba-tiba, terjadi insiden yang membingungkan. Setelah menyebrangi rel, motor sebelah kiriku bergeser semakin ke kanan. Dan tak lama, kulihat dia hampir berada tepat di depanku. Langsung saja aku mengerem agar tidak terlambat.
Namun ternyata usahaku sia-sia. Ternyata aku sudah terlanjur menginjak kaki kanan pengemudi tadi. Terlihat ekspresinya yang merasa sakit. Tetapi anehnya, setelah dia berpapasan denganku, dia berkata, “Maaf ya, mbak. Saya gak sengaja.”
Aku sangat kaget mendengar perkataannya. Kenapa jadi dia yang minta maaf? Padahal kan aku yang nginjek. Apa dia kira bukan aku yang nginjek? Tapi jelas-jelas dia ngeliat kalo aku yang nginjek. Ah… ya sudahlah! Udah terlanjur. Batinku.
Akhirnya, aku meneruskan perjalanan. Dan sampai di rumah dengan fikiran yang masih kacau.

Sunday, March 11, 2012

I Have A Dream


         Banyak orang yang mengatakan kalau mimpi umunya terjadi berdasarkan kenyataan. Hal itu memang tidak dapat dipungkiri. Terkadang mimpi itu terbentuk karena kenyataan yang sudah kita alami atau justru kenyataan yang akan kita alami. Dan tentu saja setiap orang tidak mau mengalami sebuah mimpi buruk. Rasa takut yang dimiliki setiap orang memang dapat muncul karena mimpi buruk yang dialami.
         Kali ini aku –Lisa– akan membahas sedikit tentang mimpi buruk yang kualami belakangan ini. Pada suatu Senin, aku sedang melaksanakan UTS (Ulangan Tengah Semester). Untuk 5 hari ke depan aku akan melaksanakan UTS di ruang 8. Aku tidak tahu apa sebabnya –hal ini baru terjadi sekali– kami melaksanakan UTS dengan kelas lain. Kebetulan aku memang belum mengenal semua siswa sekolahku baik yang seangkatan maupun yang tidak.
         Di ruang 8 aku melihat seorang anak laki-laki yang terlihat agak murung. Anak itu berperawakan cukup manis dengan kulit kuning langsat yang dimilikinya. Terlihat olehku ia sedang membaca buku dengan serius. Aku yang sama sekali tidak mengenalnya, tidak menghiraukan anak itu. Namun tempat dudukku yang terletak di baris paling belakang memaksaku untuk selalu melihatnya. Semakin lama aku semakin sering melihatnya. Namun tatapan matanya tetap memperlihatkan seakan dia sedang memiliki banyak pikiran. Tetapi aku tetap berusaha mem-fokuskan konsentrasiku pada ulangan.
         Aku melakukan banyak kegiatan –dengan mengerjakan banyak soal ulangan– di hari itu. Hari semakin siang dan waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB. Bel sekolah pun berbunyi dan aku segera pulang. Setibanya di rumah, aku makan siang, shalat, dan melakukan berbagai kebiasaanku.
         Hari semakin sore dan tak terasa siang sudah berganti menjadi malam. Malam itu aku belajar dengan tekun dan menghiraukan segala panggilan ibuku untuk makan malam. Ketika sudah pukul 20.00 WIB, aku melaksanakan shalat Isya. Lalu aku pergi ke ruang makan untuk makan malam. Setelah pukul 21.00 WIB aku kembali ke kamar dan tidur dengan lelap.
         Ternyata malam itu aku bermimpi kalau aku sedang ada di sebuah ruang kelas yang cukup asing bagiku. Aku sedang berjalan mengelilingi ruangan. Aku melihat setiap buku dan nama yang tertera di buku itu. Tiba-tiba saja langkahku berhenti pada sebuah meja yang sangat rapi. Di atasnya hanya ada 1 buku dengan tulisan “We Are Jacinda”. Tulisan itu ada di bagian nama. Namun aku merasa sangat heran dan berfikir, “memang ada ya, nama orang We Are Jacinda?”
         Seketika itu juga aku teringat dengan novel yang belum lama ini kubaca. Tokoh utama pada novel itu bernama Jacinda. Lalu aku melihat wajah pemilik buku itu. Dan ternyata dia adalah anak laki-laki yang tadi kulihat di sekolah. Sontak saja aku terkejut dengan kejadian itu. Lalu aku teringat kalau Jacinda adalah seorang perempuan. Dan kenapa lelaki itu bernama Jacinda?
         Aku merasa semakin bingung dengan situasi itu. Lalu aku berfikir –mungkin ini terdengar konyol, tetapi aku benar-benar melakukannya– bahwa mungkin namanya bukan Jacinda tetapi Will. Aku memikirkannya karena Will adalah pacar Jacinda di novel yang sebelumnya kubaca. Akhirnya, aku meninggalkan meja itu dan berjalan ke bagian depan. Di meja paling depan, –dua meja di depannya– terdapat buku seorang anak perempuan yang namanya diawali huruf R. Aku memang agak lupa siapa namanya. Tapi seingatku namanya seperti nama orang asing. Dan ketika aku melihatnya, aku langsung mengingat wajahnya.
         Keesokan harinya, ketika aku  terbangun, aku langsung melaksanakan kebiasaan rutinku di pagi hari. Setelah merasa siap, aku langsung berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, aku langsung menuju ke ruang 8. Aku menghabiskan banyak waktu dengan membahas soal bersama teman-temanku. Namun aku merasa sedikit aneh hari itu. Bel masuk berbunyi dan guru pengawas memasuki ruangan. Kami memberi salam kepadanya dan ia membagikan soal ulangan pada kami.
         Saat sedang mengerjakan soal, seorang pegawai absensi masuk ke ruangan dan menanyakan siapa yang tidak masuk. Aku tidak begitu jelas mendengar nama anak itu. Namun ketika aku melihat-lihat sekeliling, ternyata anak itu adalah anak laki-laki yang kemarin terlihat murung. Aku terkejut seketika dan tidak bergerak untuk sesaat. Jangan-jangan perkiraanku mengenai kondisinya kemarin adalah benar. Dan aku merasa kalau ia sedang sakit.
         Aku langsung kembali menghadapi soal ulanganku dan mem-fokuskan diri. Aku merasa semakin penasaran siapa nama anak itu. Apakah dugaanku benar kalau namanya adalah Will? Aku pun memutuskan untuk mencari tahu siapa namanya. Mataku langsung tertuju ke pintu ruangan. Di sana ditempel lembar kertas nama peserta ulangan di ruang 8. Aku pun berencana untuk melihatnya.
         Setelah selesai mengerjakan soal, aku menunggu hingga bel istirahat berbunyi. Dan aku langsung bergegas ke pintu ruangan ketika bel istirahat berbunyi. Aku melihat daftar nama dan menemukan bahwa dugaanku itu benar. Ternyata namanya adalah Will. Aku benar-benar merasa heran dan tidak bertenaga. Jadi mimpi itu benar adanya?
         Dengan perasaan yang masih belum yakin, aku melihat anak perempuan yang sedang duduk di bangku paling depan. Setelah aku mengingat wajahnya, ternyata anak itu juga anak yang ada di dalam mimpiku. Aku langsung melihat nomor pesertanya dan mencari tahu namanya. Hal yang tidak masuk akal kembali terjadi. Ternyata nama anak itu adalah Rachel. Namanya diawali dengan huruf R. Tepat seperti mimpi yang aku alami sebelumnya. Oh My God! Impossible!
Jadi, apakah kau percaya dengan mimpi?

Tuesday, May 31, 2011

The 2nd And The 3rd

    Malam ini adalah giliranku untuk ngejartel. Jartel adalah sebutan teman sekelasku untuk berita mengenai tugas yang harus bibawa maupun dikerjakan. Jartel juga salah satu kebiasaan yang tidak dapat ditunda. Sebab, jika aku atau Riana sedikit saja terlambat ngejartel, maka banyak anak-anak yang menanyakannya.
    Awalnya ngejartel bukanlah sebuah kebiasaan. Namun, banyak anak-anak yang meminta dan memohon untuk dijartel. Maka aku dan Riana menerima permintaan itu. Akhirnya kami membeli nomor baru dari salah satu operator yang memberikan banyak bonus.
    Dan kali ini, Riana memintaku untuk menggantikannya. Aku pun menerimanya dengan senang, berhubung ia harus pergi ke luar kota untuk mewakili sekolah. Aku pun mulai mengetik tugas-tugas yang diberikan untuk besok. Namun, aku melewatkan 1 tugas untuk dikirimkan. Akhirnya aku mengirim ulang tugas-tugas tersebut.
    Namun keesokan harinya, aku mengalami sebuah masalah besar. Ternyata, salah seorang temanku ada yang tidak mendapatkan SMS kedua. Aku menjadi sangat bingung dan khawatir. Sebab, seingatku, aku sudah mengirimkan pesan kedua pada seluruh teman-temanku. Ketika itu, jantungku berdegup cepat. Baru kali ini aku melakukan hal yang fatal. Padahal, kemarin, Fanny sudah meminta padaku agar dikirimkan jartelan. Namun apalah daya, ternyata pesan itu belum tersampaikan. Ya Allah! Apa yang harus lakukan kali ini?
    "Ros, kamu kenapa?" tanya Aifa.
    "Fa, aku kan kemaren ngejartel, masa jartelanku gak nyampe ke Fanny. Pusing banget nih!" seruku sambil memegang kepala.
    "Lho! Kok bisa sih!" seru Aifa heran.
    "Aku juga bingung! Duh, aku harus gimana nih?" gumamku bingung.
    "Udahlah, Ros! Kamu gak salah kok! Fanny yang seharusnya inget akan kewajibannya," kata Julie yang tiba-tiba datang.
    "Tapi tetep aja! Masalahnya sekarang kan jadi ruyem!" kataku.
    Akhirnya aku keluar kelas dan berusaha untuk menemui guru Bahasa Inggris. Namun aku sempat khawatir karena ia tidak ada. Dan ketika itu, untuk kedua kalinya, aku menangis. Aku menangis tanpa menyadari posisiku. Dan ketika bertemu dengan Ma'am Ifa, aku menceritakan semua kejadian yang kualami sambil tersedu-sedu. Untunglah Ma'am Ifa mau memakluminya.
    Setibanya di kelas, aku pun meminta maaf pada Fanny. Aku merasa lega karena ia mau memaafkanku. Akhirnya, masalah pun selesai karena bukunya telah diantarkan ke sekolah.
    Hari-hari pun berlalu. Selang beberapa bulan, aku melaksanakan sebuah remed masal. Ini merupakan kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh guru Kimia. Ketika itu, aku sedikit merasa takut tidak dapat mengerjakan soal dengan baik.
    "Duh! Ulangan Kimia lagi!" seruku.
    "Ah, Ros! Kamu mah walaupun gak belajar, tetep aja bagus nilainya," kata Aifa memuji.
    "Apakah? Ada-ada aja sih, Fa!" kataku mengelak.
    "Ih, beneran! Kamu mah udah pinter, gak usah belajar juga pinter," kata Aifa semakin memuji.
    "Ya, deh! Makasih atas pujiannya. Tapi swear! Kimia kali ini agak susah," kataku.
    "Agak susah! Kalo bagi aku mah susah banget," kata Aifa semakin merendah.
    "Udahlah, Fa! Gak usah merendah melulu," kataku.
    "Aku gak merendah kok! Emang itu kenyataannya," kata Aifa.
    "Udah ah! Tuh, gurunya udah dateng," kataku.
    Akhirnya, hari itu aku mengerjakan soal yang diberikan. Awalnya aku merasa tenang, karena soal PG dapat dijawab dengan mudah. Namun ketika memasuki soal Essay, aku menjadi merasa was-was. Dari 4 soal essay yang diberikan, aku hanya mampu mengerjakannya sebanyak 2 nomor. Akhirnya aku hanya bisa pasrah karena waktu mengerjakan soal sudah habis.
    "Ya Allah! Soalnya susah banget!" ujarku ketika guru Kimia sudah keluar.
    "Heeh! Susah banget! Mana yang Essay cuma dapet 2 nomer," kata Sissy.
    "Emang tuh! Mol nyebelin," ujarku.
    Namun tiba-tiba saja aku melihat ke papan tulis. Ternyata aku telah mengerjakan soal yang salah. Seharusnya aku mengerjakan soal halaman 102. Namun aku malah mengerjakan soal halaman 115. Ya Allah! Ini adalah cobaan yang sangat berat.
    Seketika itu juga, hatiku menjadi sakit. Aku merasa, air mataku sudah berada di ujung mata dan tak bisa dibendung. Akhirnya aku keluar dan memuaskan hatiku untuk menangis sepuas-puasnya. Tiba-tiba Disney menghampiriku.
    "Ros, kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Disney bingung.
    "Ah, gak apa! Mending kamu ninggalin aku sendiri," kataku mengelak.
    Akhirnya Disney meninggalkanku. Namun semakin lama, semakin banyak anak-anak yang menghampiriku dan bertanya. Aku tetap saja mengelak dan menolak berbicara. Hingga akhirnya aku mengajak Sissy dan berbicara padanya mengenai apa yang aku alami.
    "Sy, aku udah gak tahan," kataku sambil menangis.
    "Gak tahan soal apa? Lho! Kok kamu nangis sih?" tanya Sissy heran.
    "Sy, aku salah ngerjain soal," kataku.
    "Soal? Soal apa?" tanya Sissy heran.
    "Soal Kimia. Kan harusnya ngerjain soal halaman 102, aku malah negrjain soal halaman 115. Aku bingung harus ngapain lagi," kataku semakin manangis.
    "Udahlah ,Ros! Gak apa kok! Aku juga pernah salah ngerjain soal kok! Tanang aja!" kata Sissy.
    "Tapi ,Sy! Ini tuh remed. Masa nilai remed gak tuntas!" kataku kasar.
    "Ya elah Ros! Nyantai aja kali! Gue aja cuma ngerjain 2 nomer," kata Ochi yang tiba-tiba datang.
    "Tapi paling nggak, ada yang ngebantu. Nah, ini! Aku tuh parah banget!" kataku mengelak.
    "Udah-udah! Apa kamu mau aku temenin ke gurunya? Nanti minta ke dia buat remed ulang," kata Sissy mengusulkan.
    "Ya udah deh! Semoga aja gurunya mau," gumamku.
    Akhirnya, sepulang sekolah, aku berusaha menemui guru kimiaku. Aku mencarinya ke perpustakaan, tapi dia tidak ada. Lalu aku mencarinya ke ruang guru, tapi dia juga tak ada. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan berdoa, semoga rata-rata nilai kimiaku diatas 85.

Monday, May 16, 2011

The First

    Banyak orang yang mengatakan bahwa masa SMA sangatlah menyenangkan. Namun aku tidak sependapat dengan hal itu. Aku, Rosalind Kuncoro, telah mendapatkan kenangan pahit di minggu pertama masuk SMA.
    Suatu ketika, akan diadakan seleksi anggota OSIS. Awalnya aku tidaklah berminat. Namun seorang temanku mengajakku untuk mencoba mengikuti seleksi tersebut. Aku sempat bingung dan tidak menanggapi hal itu. Namun temanku tetap saja manghasutku. Akhirnya aku mau mengikuti seleksi tersebut.
    "Ros, kamu jadi ikut seleksi OSIS?" tanya Kanya.
    "Ini juga karena kamu bujuk," jawabku.
    "Ih, gak apa tau! Siapa tahu, pengalamanmu nambah," kata Kanya. "Lagian, aku yakin kalo kamu bakal keterima,"
    "Ah, masa? Harusnya aku yang ngomong begitu ke kamu," kataku tidak yakin.
    "Yee... beneran deh! Orang kayak kamu tuh pantes jadi anggota OSIS, bahkan ketua OSIS sekalipun," kata Kanya memuji.
    "Ah, udah ah! Kamu mah, bisa aja!" kataku sedikit tersipu. "Aku duluan ya! dah mau bel nih!"
    Akhirnya aku kembali ke kelasku. Walaupun kami berada di kelas yang berbeda, kami tetap berkomunikasi. Awalnya aku mengenal Kanya ketika duduk di kelas 8. AKu merasa bahwa Kanya sulit dikalahkan. Sampai sekarang pun, aku tidak sanggup mendapatkan ranking di atasnya. Aku pun sangat kagum padanya. Sebab, ia berhasil mendapatkan ranking yang tinggi tanpa menyontek.
    Setibanya di kelas, aku memulai pelajaran baru bersama Sissy. Sissy adalah teman pertama yang aku ajak duduk bersama. Kami belum saling mengenal karena Sissy berasal dari luar kota. Dia adalah anak yang pendiam. entah mengapa aku tertarik padanya dan mengajaknya untuk duduk bersama.
    "Sy, hari ini bawa buku apa aja?" tanyaku.
    "Aku cuma bawa buku coret-coretan ama catetan," kata Sissy.
    "Cuma bawa 2?" tanyaku terkejut.
    "Catetannya bawa 4," kata Sissy.
    "Oh, kirain! Oya, bawa bekel gak?" tanyaku.
    "Bawa. Soalnya ibuku masih ada di sini," kata Sissy.
    "Oh, iya! Kok kamu mau sih, disuruh sekolah di sini?" tanyaku penasaran. "Mana ngekosnya sendirian!"
    "Aku sih cuma ngikutin saran Kakak," kata Sissy. "Aku bahkan gak tau, mau masuk sekolah yang mana,"
    "Ooh! Kalo aku sebenernya gak kepingin masuk sini. Aku tuh maunya masuk SMAN 99. Tapi ternyata aku keterima di sini," kataku menanggapi.
    "Awalnya aku juga daftar ke 99. Sempet keterima tuh! Tapi gara-gara masalah dari pusat, akhirnya masuk sini deh!" kata Sissy.
    "Uh, bener! Kan bisa aja, gara-gara masalah itu, banyak anak yang berubah fikiran. Jadi makin banyak deh yang daftar ke 99," kataku menanggapi.
    "Lagi pada ngomongin apa sih?" tanya Riana.
    "Soal masuk sini," ujarku singkat.
    "Wah! Ikutan dong!" kata Riana. "Sy, kenapa kamu masuk sini?" tanya Riana.
    "Karena aku diterima di sini," kata Sissy.
    "Emang kamu daftar di sekolah mana aja?" tanya Riana lagi.
    "Di 99, 33, ama di sini," kata Sissy.
    "Kok cuma 3?" seruku heran.
    "Habis, kakakku nyuruhnya begitu. Ya... aku ikutin aja!" tambah Sissy.
    "Trus yang paling kamu pengenin, yang mana?" tanya Riana.
    "Aku sebenernya juga bingung. Tapi aku tuh paling mau masuk ke 99," kata Sissy. "Soalnya, dulu, kakakku pingin masuk sana, cuma gak diterima dan akhirnya masuk sini," "malahan aku ikutan seleksi khusus masuk 99," tambahnya.
    "Aku juga! Aku tuh dari dulu pengen banget masuk 99. Aku juga ikutan seleksi khusus. Tapi tetep aja ak keterima," ungkapku.
    "Tapi kalian harus bersyukur. Kalo misalnya kalian masuk 99, kalian gak akan saling kenal kayak gini," ujar Riana.
    "Ya... kalo Riana sih emang minat masuk sini, jadi gampang mensyukuri," kataku.
    "Tapi emang sih! Kalo kita gak ketemu di sini, kita gak bakal bisa ngobrol kayak gini," tambah Sissy.
    Lalu tiba-tiba saja bel masuk berbunyi. Akhirnya kami menghentikan percakapan tersebut. Kami pun memulai pelajaran pertama dengan senang.
    Hari itu berlalu dengan mudah. Kami masih belum mengalami masalah yang serius. Akhirnya, tibalah hari dimana aku harus mengikuti seleksi OSIS.
    Pada seleksi OSIS, terdapat 2 tahap. Tahap pertama adalah tahap mental, dan tahap kedua adalah tahap kinerja. Kali ini, aku akan melaksanakan tahap pertama dengan cara memaparkan persentai di depan 4 orang juri. Dan kebetulan sekali, aku sekelompok dengan Kanya.
    Awalnya, aku dan 4 orang anggota timku merasa baik-baik saja. Namun ketika masuk ke ruang pemaparan, tiba-tiba saja aku merasa takut. Jantungku berdebar dengan kencang. Rasa gugupku semakin mengusikku. Kami pun mulai ditanyai macam-macam mengenai topik yang kami bawa. Dan satu hal yang aku khawatirkan, akhirnya terjadi. Aku tidak begitu memahami mengenai topik yang kami bawakan. Tentunya hal ini merupakan moment empuk dimana para juri dapat berkomentar. Akhirnya, dengan pengetahuan yang serba terbatas, aku berusaha menjelaskan isi dari paparan kami.
    Namun tiba-tiba saja, ada seorang juri yang tidak puas dengan paparan temanku. Temanku yang menjadi semakin takut pun mulai mengeluarkan air mata. Aku merasa sedikit terkejut, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Dan tak lama kemudian, ada lagi temanku yang menangis. Kali ini aku sungguh-sungguh terkejut. Bagaimana bisa, 2 orang pria yang bertubuh besar, menangis di hadapan 3 orang wanita yang tidak lain adalah partner mereka. Dan hal yang semakin mengkhawatirkanku, ketika itu Kanya kehilangan suaranya. Suaranya sampai habis karena disuruh bernyanyi. Tentunya hal ini tidak dapat dimaafkan. Aku tidak terima dengan seleksi OSIS ini. Ketika itu, aku memutuskan untuk berhenti mengikuti seleksi.
    Sesudah seleksi, aku merasa hatiku sangat sakit. Aku sudah tidak mampu manahan perihnya hatiku. Akhirnya, setibanya di rumah, aku menghibur diriku dengan menangis. Aku menangis dan mengeluarkan air mata sebanyak mungkin. Ini adalah kejadian yang sangat memalukan. Dan ini adalah kejadian yang sudah lama tidak aku alami.
    Ketika hari Senin, teman-teman sekelasku membicarakan seleksi OSIS yang kemarin diadakan.
    "Hai Ros! Pengumuman OSIS hari ini loh!" seru Roy.
    "Ah, gw udah gak minat," kataku ketus.
    " Lho! Kenapa?" tanya Roy terkejut.
    "Ya... gitu deh!" kataku.
    Tiba-tiba Sissy datang.
    "Ini dia Sang Puteri Telat!" seruku menyindir. "Mentang-mentang rumah deket ya!"
    "Hehe! itulah keuntungannya ngekos!" kata Sissy. "Oya, kalian lagi ngomongin apa?"
    "Seleksi OSIS yang kemaren," kataku.
    "Lho! Emang kamu ikut seleksi?" tanya Sissy. "Kok gak cerita ke aku sih!"
    "Habis, apa yang mau diceritain? Gak ada yang menarik," kataku ketus.
    "Ah, bilangnya gak ada yang menarik. Tau-taunya keterima deh!" kata Sissy menggoda.
    "Ya... kalo gue sih udah jelas keterima!" ujar Roy.
    "Sok lu! Ntar pas gak diterima, malah nangis!" kataku.
    "Ye... liat aja nanti!" kata Roy sambil meninggalkan tempatku.
    "Ada-ada aja sih!" ujar Sissy. "Oh iya! Trus kalo gak ada yang menarik, kenapa ikut seleksi?" tanya Sissy.
    "Aku tuh awalnya cuma ikut-ikutan. Eh, malah jadi begini!" kataku murung.
    "Begini gimana?" tanya Sissy penasaran.
    "Ternyata OSIS itu mengerikan. Mereka gak memikirkan keadaan orang lain. Mereka hanya memikirkan diri sendiri," kataku menjelaskan.
    "Maksudnya?" tanya Sissy yang semakin bingung.
    "Udah ah! Gak usah dibahas. Aku males ngebahas itu," kataku ketus.
    Tiba-tiba, Roy kembali ke kelas.
    "Yey! Gue lolos! Peringkat satu lho!" kata Roy dengan sangat gembira.
    "Dih! Ni anak bangga banget dah!" kata Sissy menanggapi.
    "Au nih! Gitu aja bangga!" ujarku.
    "Bodo! Lagian lu mah jauh dari layak. Lu cuma urutan 26 dari 60," kata Roy dengan sangat bangga.
    "Waduh! Gue lolos? Gawat!" kataku terkejut.
    "Lho! Bukannya bagus kalo lolos?" seru Sissy terkejut.
    "Sy, aku tuh gak mau ikut seleksi kedua," kataku.
    "Yah! Tapi kamu udah keterima. Mau gak mau kamu harus ikut seleksi kedua dong!" seru Sissy.
    "Nah! itu dia!" kataku singkat.
    "Tapi kalo gak salah, lu bisa ngundurin diri kalo orang tua lu ngasih surat pengunduran diri," kata Roy.
    "Oya? Harus dicoba nih!" seruku.
    Akhirnya aku melewati hari itu tanpa senyuman. Aku sudah tidak dapat melihat kebahagiaan. Hingga akhirnya tibalah hari pelaksanaan seleksi kedua. Pada hari itu, aku sungguh-sungguh bingung. Aku benar-benar tidak ingin mengikuti seleksi itu. Namun, untuk berhenti mengikuti seleksi, dibutuhkan surat larangan dari orang tua. Ketika itu, aku benar-benar lupa membawa surat. Akhirnya, di depan teman-temanku, aku memberanikan diri untuk memalsukan surat pengunduran diri. Bahkan aku berani memalsukan tanda tangan orang tuaku. Saat itu, aku benar-benar membandel. Namun, kebandelanku itu akhirnya tidak berguna. Surant yang sudah kubuat, pada akhirnya tidak digunakan. Akhirnya aku tidak mengikuti seleksi kedua dan merasa lega.
    Ketika pengumuman kelulusan menjadi anggota OSIS di hari Senin, Roy menjadi sangat murung. Ternyata, ia tidak diterima menjadi anggota OSIS. AKu pun menghampiri Roy yang sedang duduk sendiri di kursinya.
    "Kenapa? Gak diterima ya! Kasihan!" seruku menyindir.
    "Udah deh! gak usah deketin gue!" kata Roy.
    "Lagian sih! Makanya, jadi orang tuh jangan sombong! Begini nih akibatnya!" kataku.
    "Udah! Pergi sana! Jangan deketin gue!" kata Roy sambil memperlihatkan kemarahannya.
    Aku yang takut kemarahan Roy menjadi bertambah, akhirnya meninggalkan Roy sendiri di tempatnya. Dan ketika itu, aku merasa senang karena Kanya diterima menjadi Hummas OSIS dan aku terbebas dari masalah OSIS.

Sunday, May 15, 2011

Mate

Mayu Hinamori, itulah namaku. Aku adalah murid SMA Fukuriyu kelas X-1. Hari ini merupakan hari pertama dimulainya semester kedua. Ya… walaupun hanya mendapat peringkat lima, itu cukup memuaskan bagiku. Dan seperti biasa, di kelas, aku duduk dengan Yuka, Yuka Mikaku, yang menduduki peringkat 4. Aku harap di semester 2 ini, aku dapat mengalahkannya.
     “Mayu! Pagi!” sapa Angel. “Pagi… kok tumben dateng pagi,” sapaku. “Iya dong! Masih semangat nih! Baru hari pertama sih!” kata Angel. Angel Flint, temanku yang cerewet. Dia cukup sering datang terlambat. Walau begitu, peringkatnya tidak terlalu buruk. Dia berhasil menduduki peringkat 9. Ya… terkadang aku kesal jika harus mendengarkan ceramahnya. Ketika dia mengeluarkan sebuah topik, bisa-bisa dia berbicara hingga pelajaran usai.
     “Oya, kemana perginya Yuka?” tanya Angel. “Biasa lah! Dia ada meeting sama OSIS,” kataku. “Dia aja ikut OSIS tetep dapat rangking 4. Gimana kalau dia fokus ke pelajaran!” kata Angel sambil duduk di bangku tepat di depanku.
     “Ya, benar sekali! Tapi Cintya keren banget. Dia bisa dapet rangking 1 tanpa harus capek belajar. Pasti kalo ditayain cara belajar, dia jawabnya gak pernah belajar. Dia pasti bilangnya kalau di rumah kerjanya tidur dan main.” Pujiku.  “Ya, itu benar banget. Coba aja aku bisa jadi kayak dia,” kata Angel.
     Tak lama, bel masuk berbunyi. Yuka datang dan langsung duduk di sebelahku. Diikuti dengan itu, Pak Joy, wali kelas X-1, datang dengan membawa daftar absennya. “Selamat pagi anak-anak!” seru Pak Joy. “Pagi ,Pak!” jawab anak-anak dengan bersemangat.
     “Hari ini adalah hari pertama kita memasuki semester 2. Bapak harap perjuangan kalian akan semakin besar,” kata Pak Joy. “Iya ,Pak!” seru anak-anak. “Dan berhubung memasuki semester 2, Bapak akan merevisi ulang tempat duduk kalian,” kata Pak Joy.
     “Yah ,Pak! Kok dipindah?” kata Sabi memrotes. “Ini agar kalian mendapat pengalaman baru. Yang menentukan bukanlah Bapak, melainkan tangan kalian sendiri,” kata Pak Joy.
     “Maksudnya?” tanya Suki. “Nanti kalian satu persatu akan Bapak panggil sesuai absen. Dan kalian akan mengambil sebuah gulungan. Setelah itu bapak akan mencatat nomor yang kalian dapat. Dan kalian dipersilakan duduk di tempat duduk yang kalian dapat,” kata Pak Joy menjelaskan dengan rinci.
     Akhirnya Pak Joy memanggil kami berdasarkan absen. Hingga akhirnya giliranku tiba. Aku langsung ke depan kelas dan mengambil nomor undianku. Aku harap aku dapat tetap duduk dengan Yuka, atau kalau tidak, dengan Angel. Dan setelah aku membukanya, ternyata aku mendapatkan nomor urut 13. Aku pun melaporkannya pada Pak Joy dan kembali ke mejaku. Aku menunggu hingga urutan terakhir mendapatkan giliran. Lalu Pak Joy mempersilakan seluruh siswa untuk menempati tempat yang mereka dapat.
     Aku pun pergi ke bangku nomor 13. Tepatnya itu ada di baris ke dua kelompok dua. Aku duduk di sana dan menanti teman sebangkuku. Dan tiba-tiba saja datang seorang lelaki tinggi, dengan hidung mancung dan cukup tampan. Tidak lain dia adalah Shin. Shin Suji adalah anak yang mendapat peringkat kedua di kelasku. Semua gadis menggemarinya karena tampangnya yang kebarat-baratan. Tetapi aku justru menganggapnya sebagai saingan, karena dia mendapat peringkat dua. Padahal jumlah nilainya sama dengan Chintya.Tapi karena absennya di bawah Chintya, maka dia hanya menduduki peringkat kedua.
     Tiba-tiba Shin duduk di sebelahku, tepatnya nomor 14. “Hey! Kok kamu duduk di sini?” seruku. “Lho! Bukannya ini nomor urut 14,” kata Shin sambil menunjuk bangkunya.
     “Jangan bilang kamu duduk di sebelahku,” kataku. “Lho! Memang aku dapat nomor 14. Jadi mau gimana lagi,” kata Shin.
     Astaga! Mengapa jadi begini? Kok aku malah duduk sama Shin? Dia itu kan rivalku. Kenapa aku harus dapet nomor 13? Ah, dasar! Sial sekali aku hari ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kami pun tidak saling berbicara. Dia hanya diam seribu bahasa. Aku pun tidak bisa menyapanya begitu saja. Sebel! Sebel! Sebel! Kenapa aku mengalami hal seperti ini?
Akhirnya jam istirahat tiba. Bel berbunyi dengan suara dentangan yang keras. “Akhirnya! Istirahat juga!” gumamku.
     “Mayu, kau bawa bekal tidak?” tanya Yuka sembari berjalan menghampiri mejaku. “Bawa! Eh, kamu duduk di mana?” tanyaku.
     “Itu, dua bangku di belakangmu. Sama Angel lagi!” kata Yuka. “Ha? Ih, curang kalian!” seruku dengan sedikit kesal.
     “Ye… malah nyalahin! Kamu aja kali yang gak beruntung,” kata Yuka sambil duduk di bangku nomor 12. “Iya deh! Yang lagi beruntung! Sedangkan hari ini aku sial banget duduk sebangku sama Shin,” kataku sambil menghadap Yuka.
     “Jadi kamu sebel duduk sama aku, minta pindah aja!” kata Shin secara tiba-tiba sambil membaca buku.
     Mendengar perkataan Shin, aku menjadi sangat terkejut. “Oh, jadi kamu juga gak mau duduk sama aku. Ya udah! Kamu bilang ke Pak Joy gih!” kataku dengan ketus.
     “Kenapa aku? Kan yang benar-benar menginginkannya adalah kamu,” kata Shin. Ih, nyebelin banget sih ni orang. Pengen nabok rasanya. “Udah! Udah! Ngapain sih mikirin itu. Daripada Pak Joy marah, mendingan kalian akur aja!” kata Yuka meredamkan perdebatan.
     “Akur? Sama dia? Gak bakal,” kataku ketus. Aku langsung pergi ke meja Angel. Sedangkan Yuka mengikutiku dari belakang sambil membawa bekalku.
     “Ada apa sih? Kok kusut begitu,” tanya Angel padaku. Namun aku tidak ingin menjawabnya. Lalu Yuka menjawab, “Dia abis berantem sama Shin,”. “Shin? Jangan bilang kamu duduk sama dia,” kata Angel dengan terkejut.
     “Iya, aku kesel banget duduk sama dia,” kataku spontan. “Astaga Mayu! Gimana bisa kamu kesal sama dia? Dia itu kan pinter, baik, keren lagi,” kata Angel menasehati.
     “Baik? Baik apanya?” kataku ketus. “Tunggu! Angel, tadi kamu bilang Shin keren? Jangan bilang kamu naksir dia,” kata Yuka.
     Ketika itu, aku melihat Angel terdiam. Dia tidak mengatakan sesuatu. “Angel, jawab!” kataku sedikit memaksa. “Em… bisa dibilang!” kata Angel. “Serius?” seru aku dan Yuka bersamaan. “Shht! Jangan keras-keras,” kata Angel.
     “Oh My Gosh! Gila kamu ,Gel! Kok bisa-bisanya suka sama cowok kayak gitu,” kataku.
      “Cowok kayak gitu? Apa maksudnya?” tanya Angel. “Ih, dia itu hanya casingnya aja yang bagus. Perilakunya mah jauh dari layak,” kataku dengan ekspresi meremehkan.
     “Ah, masa sih?” kata Angel.
     “Gak usah percaya. Itu mah Mayunya aja  yang lagi sebel gara-gara duduk sama Shin,” kata Yuka membela.
     “Ye… beneran kok!” kataku. “Lagian kok kamu sebel duduk sama Shin. Dia itu kan cowok idaman semua wanita,” kata Angel.
     “Kata siapa? Buktinya aku gak suka sama dia,” kataku membela diri. “Itu sih kamunya aja yang aneh!” kata Yuka.
     “Yuka? Jangan-jangan kamu juga naksir!” kataku. “Naksir sih nggak. Hanya saja, apa yang dibilang Angel itu benar. Mana ada cewek yang nolak kalo dijodohin sama dia. Hanya orang bodoh yang menolaknya,” kata Yuka.
     “Ih! Kok semua pada ngomong gitu sih? Nyebelin deh! Udah ah! Mendingan aku makan,” kataku sambil mengambil bekalku yang sedang dipegang Yuka.
     Aku langsung melanjutkan makananku dan mengubah topik pembicaraan. Tak lama, bel berbunyi dan seluruh siswa kembali ke kursinya masing-masing. Aku merasa sangat bosan. Sepertinya dia itu bicara hanya untuk membuatku marah. Aku pun melewati hari itu di sekolah dengan jengkel. Dan ketika sampai di rumah, aku langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Mama yang melihatnya, langsung menegurku.
     “Sayang! Kok gak ngucapin salam?” seru mama. Aku hanya terdiam. “Kamu kenapa sih? Kok suntuk banget?” tanya mama sambil menghampiriku dan duduk di sebelahku.
      “Aku lagi sebel,” jawabku dengan ketus. “Sebel kenapa?” tanya mama perlahan.
     “Tadi di sekolah ada pergantian tempat duduk, eh… aku malah duduk sama cowok,” jawabku. “Lho! Bagus dong! Berarti kamu punya pengalaman juga sama cowok,” kata mama.
     “Bukan itu masalahnya! Cowok ini tuh sama sekali gak ngomong. Dari tadi, dia tuh diem aja! Siapa coba yang gak kesel?” jawabku.
     “Ya udah! Sekarang kamu masuk, mandi, trus makan,” kata mama sambil mengelusku.
     Tanpa fikir panjang, aku meninggalkan mama dan pergi ke kamar. Kemudian aku menanggalkan tas dan pakaianku. Aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Setelah itu, aku turun dan menyantap makananku. Seusai makan, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Setelah pintu kubuka, ternyata yang datang adalah Yuka dan Angel.
     “Hey! Kalian tumben datang kemari. Ayo masuk!” ajakku. Kami masuk ke dalam dan pergi ke kamarku.
     “Ada apa?” tanyaku. “Tadi aku ketemu Angel, katanya dia mau ke sini. Jadi aku temenin deh!” kata Yuka.
     “Memang Angel ke sini mau apa?” tanyaku dengan serius.
     “Hm… gimana ya…! Tadi aku udah cerita sedikit sih ke Yuka,” kata Angel memulai pembicaraan. “Sebenernya Angel pingin minta tolong sama kamu,” kata Yuka.
     “Minta tolong soal apa?” tanyaku dengan cermat. “Tapi sebelumnya, aku mohon jangan bilang siapa-siapa,” kata Angel.
     “Iya, iya! Cerita deh!” kataku berjanji.
     “Aku…Aku… Ah! Yuka aja deh yang ngomong. Aku malu,”
     “Lah! Kok aku?” seru Yuka terkejut. “Ayolah! Ya, ya!” pinta  Angel.
     “Oke, aku ceritain. Sebenernya Angel ingin minta tolong ke kamu buat bantuin cari tau mengenai Shin,” kata Yuka menjelaskan.
     “Ha? Kok aku?” seruku.
     “Please! Aku mohon dengan sangat,” kata Angel.
     “Ya… tapi kenapa aku? Kenapa gak kamu aja?” kataku. “Secara, kamu kan duduk sama dia. Berarti kamu bisa ngobrol sama dia,” kata Angel.
     “Angel, memang aku duduk sebangku sama Shin. Tapi kami tuh gak pernah ngobrol,” kataku membela diri.
     “Yuka, bantuin dong!” pinta Angel.
     “Bantuin apa? Itu kan masalahmu!” kata Yuka sedikit tak peduli.
     “Ayo dong! Tolongin aku! Tolong paksa Mayu!” kata Angel memohon.
     Aku tak tega melihat Angel memohon seperti itu kepadaku. Dan memang. Selama di SMA, dia belum pernah menyukai seseorang. Aku sangat bingung. Aku harus menolong Angel. Tapi aku tidak bisa bicara dengan Shin.
     “Oke deh! Aku bantuin” kataku dengan sedikit rasa berat hati.
     “Yey! Makasih ya, Mayu! Makasih banget!” ucap Angel sambil memelukku.
     “Tapi kalo gak berhasil, jangan salahin aku ya!” kataku minder.
     “Ya, gak masalah!” jawab Angel.
     Ya… walaupun aku terpaksa, mau gak mau aku harus nolongin Angel. Tapi sekarang yang jadi masalah, gimana caranya aku ngomong sama Shin. Nanti yang ada aku malah dijelek-jelekin lagi. Aduh…! Pusing! Pusing! Pusing!
     “Lho! Kamu kenapa ,May? Kok pegang-pegang kepala?” tanya Yuka.
     “Ah! Oh… gak, nggak kenapa-kenapa,” jawabku.
     “Kamu pusing ya, mikirin aku!” kata Angel.
     “Ha? Nggak kok! Asal tuduh deh! Mendingan sekarang kita ngapain nih?”  tanyaku mengalihkan pembicaraan.
     “Kerjain PR Fisika. Aku gak ngerti!” pinta Angel.
     “Untung aku bawa PR Fisika,” tambah Yuka.
     Akhirnya, sore itu kami mengerjakan PR bersama-sama. Aku sangat senang dapat membantu temanku yang sedang dalam kesulitan. Dan memang, Angel kurang pandai pada pelajaran Fisika. Kalau Yuka pada pelajaran Kimia. Sedangkan aku Biologi.
Keesokan harinya, karena cuaca mendung, aku terpaksa berangkat lebih awal. Aku tiba di sekolah pukul 05.50. Ternyata di kelas telah ada Shin. Dia duduk di kursinya dan mengerjakan sesuatu. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Tepatnya di kursiku. Aku membuka buku Biologi dan membacanya sedikit. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sentuhan sebuah tangan di pundakku. Ketika aku menoleh, ternyata Shin yang menyentuh.
     “Ada apa?” tanyaku.
     “Aku ingin tanya cara nomor 7,” tanya Shin. “Apa kau tahu?”
     “Coba kulihat,” kataku sambil mengambil kertas yang digenggamnya. “Oh… ini pakai rumus kedua,”
     “Oke! Thanks!” kata Shin.
Aku terkejut. Kok Shin mau bertanya padaku! Aku berfikir jika Shin akan bicara ketika dia kesulitan dan ingin mengejekku. Menyebalkan sekali anak ini. Karena sedikit kesal, aku memberanikan diri bertanya kepada Shin.
     “Kok kamu mau nanya sama aku? Selama ini kan kamu ngomong ke aku ketika kamu ngejek aku,” kataku dengan kerutan di dahi.
     “Oh! Maafin aku soal itu deh! Kemarin, aku sebel ketika tahu duduk sama kamu,”  kata Shin.
     “Jadi kamu sebel sama aku?” kataku menduga. Seketika itu, aku menutup buku Biologiku.
     “Bukan begitu! Aku sebel kalau duduk sama cewek,” kata Shin.
     “Ha? Kenapa?” seruku terkejut.
     “Soalnya, aku pernah 2 kali duduk sama cewek. Dan mereka bukannya belajar malah deketin aku,” kata Shin. “Aku kan jadi sebel,”
     “Ya… mungkin mereka suka sama kamu,” kataku spontan.
     “Memang sih! Banyak cewek yang bilang kalau aku itu tampan. Tapi aku sebel sama cewek yang deketin aku tanpa ngeliat perasaanku,” kat Shin.
     “Iya sih! Benar juga! Trus sekarang kenapa kamu mau ngomong sama aku?” tanyaku perlahan.
     “Karena kalau aku lihat, kamu adalah cewek baik-baik,” kata Shin.
     “Oya? Bagus dong!” jawabku.
     Aku tidak menyangka kalau Shin memiliki pengalaman mengerikan terhadap wanita. Ya… kalau aku jadi dia, mungkin aku bisa marah besar. Tapi ternyata dia masih menahan amarahnya untuk kepentingan bersama.
     “Trus, sekarang ada orang yang kamu suka gak?” tanyaku penasaran.
     “Kok nanya begituan?” tanya Shin sambil menghentikan tulisannya.
     “Ya… kan kamu pernah trauma dengan yang namanya cewek, mungkin saja kamu gak pernah suka seseorang,” kataku.
     “Sejauh ini sih belum,” kata Shin. “Yah… padahal kan ada yang suka kamu,” kataku spontan.
     “Ha? Maksudmu?” tanya Shin terkejut.
Astaga! Aku hampir saja keceplosan. Untung aku belum mengatakan namanya.
     “Ha? Memang tadi aku ngomong apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. “Kamu bilang ada yang suka sama aku kan!” kata Shin. “Siapa?”
     “Ah, salah denger kali!” kataku mengelak.
     “Masa sih? Trus tadi kamu ngomong apa?” tanya Shin.
Aku menjadi bingung harus berkata apa. “Aku cuma bilang kalau kau harus berhati-hati dengan wanita,” kataku.
     “Masa sih?” kata Shin sambil memunculkan kerutan di kening.
     “Yee… gak percaya!” kataku berusaha meyakinkan.
     “Gawat dong! Tenyata pendengaranku mulai memburuk,” kata Shin sambil menggerakan kepalanya.
     Aku pun memasukan buku Biologiku dan mengeluarkan bekalku.
     “Kamu makan lagi?” seru Shin.
     “Lagi? Enak aja! Ini tuh sarapanku,” kataku.
     “Sarapan? Sarapan kedua?” kata Shin menyidir.
     “Eit! Ngomong seenaknya aja!” kataku.
     “Emang benar kan!” kata Shin.
     “Iih! Apaan sih!” kataku sambil mendorong-dorong tubuh Shin.
     Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari pintu kelas. Suara itu terdengar seperti sebutan namaku. Aku langsung menoleh ke tempat suara itu berasal. Dan di sana, aku melihat Angel yang sedang berdiri tegap.
     “Angel? Kamu sudah dateng?” kataku spontan.
     Tiba-tiba saja Angel melepaskan genggamannya dan menjatuhkan tas bekalnya. Lalu I mulai berlari meninggalkan kelas. Aku menjadi bingung dan heran. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Angel.
      Tanpa berfikir panjang, aku langsung mengejar Angel. Aku keluar dari kelas dan menyusulnya. Ternyata dia sedang berdiri di koridor tangga. Dia menatap keluar jendela sambil mengeluarkan air mata. Aku mulai menghampiri Angel dengan perlahan.
     “Angel? Kamu kenapa nangis?” tanyaku perlahan sambil menyentuh pundak Angel.
     Tiba-tiba Angel melepaskan sentuhanku. Aku menjadi terkejut. Ada apa sebenarnya dengan Angel.
     “Gel, kamu kenapa? Marah sama aku?” tanyaku. “Memang apa salahku?”
     “Kok kamu gitu sih? Kamu kan tau kalau aku suka sama Shin. Kok kamu malah deketin dia,” kata Angel sambil menatapku dengan tajam.
     “Kamu ngomong apa sih?” tanyaku bingung. “Deketin? Siapa yang deketin?”
     “Nah, trus yang tadi kamu lakukan sama Shin apaan?” kata Angel sambil membuang muka.
     “Angel, jadi kamu ngomongin soal tadi?” kataku. Lalu aku mulai tertawa. “Astaga! Angel! Angel! Kamu ada-ada aja deh! Tadi tuh aku lagi berdebat sama dia,” tambahku.
     “Bohong!” kata Angel ketus.
     “Percaya deh! Aku gak bohong!” kataku sambil mengangkat tanganku dan membuka jari telunjuk juga jari tengah.
     “Trus kenapa tadi kamu ketawa-ketawa?” kata Angel sambil menatapku.
     “Oh… emang yang lagi aku debatin temanya lucu!” kataku. “Lagian mana mungkin aku mengkhianati temanku sendiri,” kataku. Angel terdiam.
     “Kamu masih gak percaya sama aku?” kataku. “Ya udah! Kalo gitu sekarang kamu ikut aku ke kelas dan bicarain ini baik-baik dengan Shin,”
     “Eh! Enak aja! Oke! Oke! Aku percaya,” kata Angel yang mulai luluh.
     “Nah! Gitu dong! Sekarang kamu hapus air mata kamu dan kita pergi ke kelas,” kataku.
     Kemudian Angel menghapus air matanya dan pergi ke kelas bersamaku. Kami pun melewati hari itu tanpa mengungkit-ungkit kejadian tadi.
     Aku merasa mulai akur dengan Shin. Aku pun menggunakan kesempatan itu untuk mencari tahu mengenai dirinya. Setelah itu aku memberitahukannya pada Angel.
     Hari demi hari kulalui. Lambat laun aku mulai dekat dengan Shin. Lalu suatu hari, Angel memintaku untuk menanyakan orang yang Shin sukai. Aku sedikit malu mengatakannya. Namun untuk kepentingan Angel, apapun akan aku lakukan.
     Ketika jam istirahat, aku memberanikan diri bertanya pada Shin. “Shin, aku mau nanya sesuatu nih!” kataku.
     “Tanya apa?” tanya Shin.
     “Tapi jangan marah ya!” kataku. “Iya! Memang apa sih?” tanya Shin dengan nada penasaran.
     “Hm… sebenernya ada gak sih orang yang kamu suka?” kataku perlahan. “Ya… kamu kan banyak yang nyukain, masa kamu gak menyukai seseorang!”
     “Hm… gimana ya? Sebenernya sih ini pribadi. Tapi berhubung kamu temen sebangkuku, aku akan memberitahukan kepadamu,” kata Shin. “Ada seseorang yang aku sukai. Deket banget sama aku. Tapi…”
     “Tapi apa?” tanyaku penasaran.
     “Dia gak ada di sekolah ini,” kata Shin.
     “Oh…! Kirain apa!” kataku.
     Setelah mendapatkan informasi itu, aku berusaha untuk memberitahukan ini pada Angel. Tapi aku tidak bisa melihat Angel menderita. Aku pun memberanikan diri. Hari itu juga, aku mengajak Angel dan Yuka ke rumahku. Aku memberitahukan pernyataan Shin pada mereka. Aku melihat Angel menjadi pasrah. Tapi, Angel malah mengucapkan terima kasih kepadaku. Ia berkata bahwa ia senang mengetahui kebenaran mengenai Shin.
     Angel mulai melupakan Shin. Seminggu kemudian, ia berhasil melupakan Shin. Dan dua hari kemudian, seorang laki-laki dari kelas X-5 menembak Angel. Dan ketika itu juga, Angel menerimanya. Angel mulai menyukainya dan mereka menjadi pasangan yang serasi.
Sebulan setelahnya, aku mendapat tugas kelompok Biologi. Tugas itu dikerjakan bersama dengan teman sebangku. Untuk itu, aku mengerjakannya di rumah Shin.
      Kemudian ketika berjalan di dalam komplek, menuju rumah Shin, kami bertemu dengan seorang gadis belia. Parasnya terlihat cantik sekali. Lalu shin menyuruhku berhenti sebentar. Dan dia pergi menghampiri gadis itu. Dan setibanya di sana, Shin menyapanya dan mengelus rambutnya.
     Aku sangat terkejut. Apa aku tidak salah lihat? Biasanya kan seorang lelaki yang mengelus rambut wanita berarti memiliki hubungan spesial. Jangan-jangan gadis ini adalah gadis yang dimaksud Shin.
     Dan tiba-tiba, Shin mengecup kening gadis itu. Ketika itu, hatiku berdebar kencang. Dadaku mulai terasa sakit. Oh tidak! Apa yang tengah aku rasakan?
Tiba-tiba Shin melambaikan tangan dan gadis itu pergi. Gadis itu melewatiku tanpa berkata apa-apa. Dan Shin memanggilku untuk menghampirinya. Aku pun menurutinya dan menghampiri Shin.
     Lalu Shin membawaku pergi ke rumahnya. Setibanya di sana, aku langsung dituntun ke kamanya. Kami langsung mengerjakan tugas Biologi. Tak lama, datanglah seorang wanita sambil membawakan minuman. Ternyata wanita itu adalah gadis tadi. Aku terkejut. Jangan-jangan Shin tinggal serumah dengannya. OH MY GOD!
     “Silakan diminum jusnya,” kata gadis itu dengan ramah. “Terima kasih ya!” kata Shin sambil tersenyum. “Sama-sama,” kata gadis itu dan langsung meninggalkan kami.
     “Diminum dulu jusnya!” kata Shin sambil menyodorkan segelas ke hadapanku.
     “Terima kasih!” jawabku. “Lho! Shin, kok pacarmu ada di rumahmu?”
     “Pacar? Pacar apaan?” tanya Shin.
     “Yang barusan,” kataku memperjelas.
     Shin terdiam dan ia mulai memincingkan bibirnya. Lalu ia mulai tertawa.
     “Kok malah ketawa sih?” tanyaku heran.
     “Habis kamu aneh banget!” kata Shin.
     “Aneh apanya? Dia itu kan cewek yang kamu sukain itu kan!” kataku.
     “Kamu ngarang deh! Dia bukan cewek yang aku sukain. Dia itu adik aku,” kata Shin.
     “Apa? Yang bener?” kataku dengan sangat terkejut.
     “Bener! Lagian orang yang kusuka gak ada di deket rumah,” kata Shin. “Trus di mana?” tanyaku.
     “Sebenernya sih ada di sekolah,” kata Shin.
     “Ha? Jadi kamu bohong!” kataku terkejut.
     “Ya… habis mau gimana lagi? Nanti kamu malah nyari tahu soal dia,” kata Shin.
     “Ih! Kok kamu jahat sama aku?” kataku ketus.
     “Kamu marah ya?” tanya Shin.
     “Marah banget!” kataku. “Aku ini kan temen sebangkumu. Masa kamu gak percaya sama aku,”
     “Maaf deh kalau gitu! Sebagai gantinya, mau gak kamu jadi pacarku?” kata Shin.
Aku terkejut mendengar perkataan Shin.
     “What? Tadi kamu ngomong apa?” tanyaku.
     “Mau gak jadi pacarku,” kata Shin memperjelas.
     “Udah deh! Gak usah bercanda lagi. Gak lucu tau!” kataku.
     “Ini serius!” kata Shin. “Sebenernya orang yang aku suka itu kamu,”
     Aku sangat terkejut mendengarnya. Apakah ini mimpi? Tapi aku yakin sedang terbangun. Oh My God! Kok bisa gini?
     “Sebenernya, waktu kamu tanya soal orang yang aku sukai, secara tak langsung aku sudah menyatakan perasaanku padamu,” kata Shin.
     “Jadi… orang yang selama ini kamu sukai adalah aku!” seruku.
     “Benar! Jadi apa kamu mau menerimaku sebagai cowokmu?” tanya Shin dengan tatapan yang serius.
     Aduh! Bagaimana ini? Apa yang harus aku jawab? Mana mungkin aku menyakiti perasaan Angel. Tapi aku juga tidak bisa menolak Shin begitu saja.
     “Lihat nanti deh! Aku fikir-fikir dulu,” kataku.
      Kami pun melanjutkan pekerjaan  bersama-sama tanpa membicarakan perasaan Shin. Sepulangnya dari sana, aku langsung pergi ke rumah Yuka. Aku ingin menanyakan apa yang harus aku lakukan. Dan setibanya di sana, aku langsung mengetuk pintu. Tak lama, seseorang membukakan pintu. Ternyata itu adalah Yuka.
     “Lho! Kok kamu di sini? Gak belajar kelompok?” tanya Yuka. “Udahan!” kataku.
     “Keren banget! Ya udah kalau begitu masuk dulu deh!” ajak Yuka.
     Lalu aku dan Yuka masuk dan duduk di sofa. “Sebenernya ada masalah apa? Kok tumbenan?” tanya Yuka.
     “Hm… tapi aku mohon, jangan bilang-bilang pada Angel,” kataku.
     “Iya! Memang ada apa sih?” tanya Yuka.
     “Hm… sebenernya ini tentang Shin,” kataku memulai pembicaraan. “Kamu masih ingat kan apa yang aku katakan pada kalian mengenai orang yang Shin suka!”
     “Yang disuka? Inget! Emang kenapa?” tanya Yuka. “Tau gak siapa orangnya?” kataku.
     “Ya nggak lah!” kata Yuka.
     “Ternyata… orangnya itu… aku,” kataku.
     “Ha? Apa? Serius kamu?” seru Yuka terkejut.
     “Beneran! Aku juga baru tau tadi,” kataku. “Pas kerja kelompok tadi, aku ditembak Shin. Aku bingung mau jawab apa. Nanti kalau aku jawab ya, bisa-bisa Angel marah. Tapi kalau aku gak jawab ya, Shin yang marah,” kataku menjelaskan.
     “Terima aja!” kata Angel yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
     “Angel? Kamu masih di sini?” seruku terkejut.
     “Udah! Mendingan kamu terima aja Shin. Aku gak keberatan kok!” kata Angel.
     “Tapi kan kamu…” kataku terpotong.
     “Mayu, aku kan udah punya Andre. Masa iya sih aku mau ngelarang kamu pacaran sama Shin!” kata Angel. “Lagian aku udah gak punya perasaan apa-apa sama Shin,”
      “Benar! Kamu itu adalah orang yang sangat beruntung. Kamu bisa mendapatkan Shin yang terkenal diidam-idami para wanita,” kata Yuka. “Kamu masih inget gak perkataanku? Hanya orang bodoh yang nolak Shin,”
      “Aku fikir-fikir lagi deh!” kataku. “Kalau gitu aku pulang dulu ya!”
     Aku meninggalkan rumah Yuka dan pulang sebelum malam menjelang. Aku memikirkan kembali perkataan Yuka dan Angel. Benar yang mereka katakan. Tidak ada wanita yang dapat menolak Shin. Namun aku tetap tidak bisa menerima Shin begitu saja.
     Akhirnya, keesokan harinya, tepatnya hari Sabtu, aku pergi menemui Shin di bukit bunga. Setibanya di sana, ternyata Shin sudah menunggu.
     “Udah lama nunggu ya!” kataku sambil menghampiri Shin. “Maaf ya, aku telat,”
     “Sebenernya kamu kenapa ngajak aku ke sini?” tanya Shin.
     “Ini mengenai pernyataanmu kemarin,” kataku. “Sebelumnya, aku ingin meminta maaf. Aku gak bisa nerima kamu gitu aja!”
     “Oh… begitu! Gak papa kok kalau kamu gak mau. Aku tau kamu pasti nolak aku,” kata Shin.
     “Ha? Siapa yang nolak?” seruku.
     “Lalu apa maksudmu dengan perkataanmu barusan?” tanya Shin.
     “Kalau kamu ingin aku termia, kamu harus mengatakan I LOVE YOU,” kataku.
     “Oke! Siap ya!” kata Shin dan terdiam sejenak. “I LOVE YOU ,Mayu!” ucapnya dengan tegas.
     Sejak itulah aku dan Shin menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih. Aku harap, hubungan kami akan terus berjalan hingga akhir hayat.